Kemiskinan Bukan Takdir, Melainkan Akibat Aturan
![]() |
| Salah satu kegiatan Forum Mahasiswa Madura FORMAD yang diselenggarakan pada 5 Juni 2026. |
Jakarta, iLintas.com - Di tengah gemerlap pembangunan yang sering dipamerkan, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Muhammad Pendi, mengingatkan bahwa masih ada wajah di wilayah lain yang kerap luput dari sorotan.
Wajah yang dipenuhi angka kemiskinan, ketimpangan, dan harapan yang belum sepenuhnya menemukan jalannya. Hal tersebut disampaikan Pendi dalam mimbar bebas yang diselenggarakan Forum Mahasiswa Madura (FORMAD) di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di awal bulan Juni.
Pendi menilai pembangunan selama ini masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Ia menyoroti tingginya angka kemiskinan, kualitas pendidikan yang masih tertinggal, minimnya lapangan pekerjaan, hingga tata kelola anggaran yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada kebutuhan.
Ia menjelaskan, daerah kebanggaannya hari ini ibarat sebuah kapal yang memiliki layar besar namun masih berputar-putar di teluk yang sama. Potensi sumber daya alam tersedia, semangat masyarakat tidak pernah padam, tetapi arah pembangunan dinilai belum mampu mengubah potensi tersebut menjadi kesejahteraan yang nyata.
“Selama ini kita terlalu sering mendengar cerita tentang proyek, tetapi terlalu jarang mendengar cerita tentang rakyat yang hidupnya berubah karena pembangunan. Jembatan sudah berdiri megah, gedung-gedung terus dibangun, tetapi kemiskinan masih setia tinggal di banyak rumah masyarakat,” kata Pendi.
Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada beton, aspal, dan seremoni peresmian. Pembangunan harus hadir dalam bentuk sekolah yang melahirkan generasi unggul, layanan kesehatan yang mudah diakses, lapangan pekerjaan yang terbuka, serta ekonomi rakyat yang tumbuh dan berkembang.
Pendi juga mengkritik pola pembangunan yang menurutnya masih terlalu berorientasi pada proyek fisik, sementara investasi terhadap kualitas sumber daya manusia belum menjadi prioritas utama.
“Daerah tidak kekurangan orang pintar, yang sering kurang adalah kesempatan. Banyak anak-anak muda yang memiliki kemampuan, tetapi ruang untuk berkembang masih sempit. Akibatnya, mereka terpaksa mencari masa depan di luar daerahnya sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kemiskinan yang terus bertahan tidak boleh dianggap sebagai nasib yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kemiskinan, menurutnya, sering kali lahir dari kebijakan yang gagal menjawab kebutuhan masyarakat.
“Tidak ada daerah yang ditakdirkan miskin, daerah yang terlalu lama dibiarkan berjalan tanpa arah perubahan yang jelas. Kemiskinan bukan warisan budaya, melainkan alarm bahwa ada yang belum selesai dalam tata kelola pembangunan,” tegasnya.
Selain pemerintah daerah, Pendi juga meminta anggota DPR RI dan DPD RI yang berasal dari daerah pemilihan agar tidak hanya hadir ketika musim politik tiba. Ia berharap para wakil rakyat lebih aktif memperjuangkan program-program strategis yang mampu mempercepat pembangunan dan mengurangi ketimpangan di Pulau Garam.
Dalam forum-forum yang terselenggara, mahasiswa menyatakan komitmen nya untuk terus mengawal kebijakan pembangunan serta menjadi mitra kritis pemerintah. Mereka menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukanlah bentuk penolakan terhadap pembangunan, melainkan upaya untuk memastikan pembangunan berjalan lebih adil dan tepat sasaran.
Pembacaan pernyataan sikap mahasiswa yang menuntut pembangunan yang lebih transparan, berkeadilan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat sering menjadi kegiatan penutup di tengah-tengah diskusi.
Bagi Pendi, tempat kelahirannya tidak membutuhkan janji yang terus diulang, melainkan keberanian untuk mengubah arah. Sebab pembangunan sejatinya bukan tentang seberapa banyak proyek yang berdiri, melainkan seberapa banyak rakyat yang mampu berdiri lebih sejahtera karenanya.
“Pulai kita terlalu kaya untuk terus tertinggal. Terlalu kuat untuk terus dianggap lemah. Yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar pembangunan, tetapi keberanian untuk memastikan bahwa hasil pembangunan benar-benar sampai ke tangan rakyat,” pungkasnya.***
Penulis: Aviaska Azizah

Komentar
Posting Komentar