Empat Alasan Remaja Hina Temannya! Pola Asuh yang Buruk atau Tekanan Sosial?

Ilustrasi tangkapan layar seorang anak perempuan marah (Pixabay/@)
Tegal Viral - Apa alasan remaja bisa sampai menghina orang lain, apakah salah didikan atau hanya sekadar iseng? Maraknya bullying di sekolah sampai berita terkini tentang pelajar yang mengolok temannya.
Tidak habis pikir, mengapa remaja bisa sampai berlebihan mengutarakan lelucon seperti itu. Mengundang banyak pertanyaan, apa motif yang sebenarnya membuat mereka berbuat demikian? Yuk kita kupas bersama!
1. Dihantui Inner Child
Inner child setiap manusia akan membentuk mentalnya di kemudian hari, karakteristik orang dewasa adalah hasil dari pengalamannya.
Terlebih, tontonan anak zaman sekarang harus sangat diawasi sebab banyak yang melenceng dari pembelajaran.
Nilai yang kurang matang ditanamkan tentu berakibat pada tingkah laku, akhirnya sulit untuk mengendalikan emosionalnya.
Jepang saja mulai mengajarkan adab itu sejak dini, sehingga pelajaran karakter muncul di sekolah tingkat kanak-kanak.
Edukasi tersebut penting mengingat zaman sekarang, antusiasme masyarakat terhadap ilmu parenting semakin tinggi.
Inner child seseorang yang belum selesai misalnya ada trauma dan masalah tentu dampaknya akan lebih luas lagi.
2. Kepercayaan diri yang kurang
3. Terbawa standar styel medsos
Demokritos memiliki pandangan:
Kesenangan sebagai tolak ukur dari perilaku
Hedonisme, mengejar kekayaan tidak akan pernah ada habisnya. Seorang anak yang terbiasa memiliki harta, apakah mereka merasakan sedihnya anak yang terlahir kurang mampu?
Melansir dari buku F Budi Hardiman yang berjudul, Filsafat untuk Para Profesional,
Simmel Georg memposisikan miliarder tergantung pada kepribadiannya bukan hartanya.
Postmodern dengan gemerlap kemewahan akan menguji iman. Makanan berlimpah akan membuat penyakit dimana-mana, semua serba instant akan membuat orang manja dan mengundang penyakit, kecuali manusia yang bijaksana.
Seorang filsuf, Epikuros juga berkata:
Aku lepas dari kemewahan dan sandiwara bukan karena ada keburukan tetapi dampaknya yang aku hindari yaitu kekacauan.
Wajar saja bila anak muda tenggelam dalam kesenangan sehingga melupakan kesenjangan yang terjadi di sekitarnya, apalagi menertawakan bangsa yang tidak seberuntung mereka. Hal tersebut karena gaya hidup masa kini dan merasa kehidupannya sudah stabil.
4. Kurangnya interaksi dengan orang tua
Teknologi semakin maju, media sosial menampilkan kesenangan, kemewahan, kegembiraan yang membuat remaja hidup seperti sosialita.
Orang tua yang sibuk akan kurang berdialog dengan anak, Hegel berpendapat, sadar atau tidaknya seseorang itu ketika sedang berhadapan dengan orang lain.
Aplikasi dari membaca buku, berdiskusi dengan orang tua adalah bentuk pendewasaan, tentang karakter yang dibahas serta bertukar pikiran.
Empedokles juga menyatakan, persahabatan lahir atas dasar kesamaan sehingga keluarga akan mencari minat, topik yang sesuai dengan kepribadian bersama.
Orang tua cerminan dari diri sendiri sebagaimana seorang anak lahir atas kebaikan masing-masing.***
Penulis: Aviaska Azizah
Sumber foto: Ilustrasi seorang anak perempuan marah (pixabay/@)
Komentar
Posting Komentar