CERPEN PART 1 Ladang-Ladang Sunyi

 Ilustrasi Sebuah Ladang (Pexels/Lan Nguyen Tran)

iLintas.com
-"Percuma Frans, percuma. Tutup mulutmu! Sampai kapanpun kau tak akan pernah berhasil. Jika kau ingin cintai perempuan, kau mesti jadi laki-laki terlebih dahulu." Kata-kata itu masih terngiang hingga saat ini. Ternyata begini rasanya punya kawat bangsat. Kata-katanya yang ketus selalu jadi cambuk buatku, ditambah lagi dia selalu anggap aku orang yang lemah. Padahal jika dia minta, aku bahkan bisa pindahkan gunung ke tengah kota dan menggeser sungai dari tempatnya—seperti puisi Usman Arrumy. Tidak! Aku becanda. Begitulah kawanku, walaupun terdengar sakit, tapi menyadarkan.

Memang benar, aku bukanlah orang yang kuat. Atau katakanlah aku ini adalah orang yang lemah. Brengsek! Tak miliki tujuan. Dan yang paling menyedihkan, aku tak miliki hasrat apapun di dunia ini. Aku selalu berjalan lusuh dengan mata yang mengantuk. Aku yakin bahkan orang paling putus asa di dunia ini pun akan sungkan ketika lihat aku. Tapi setelah dua puluh empat kali tujuh jam terakhir, duniaku berubah. Tepatnya setelah pertama kali aku lihat dia.

Di persimpangan jalan di antara pengapnya tumpukan bahan bangunan, aku lihat dia berdiri di atas tangga kecil. Aku masih bisa rasakan sensasinya. Ketika pertama kali aku lihat matanya yang teduh bagai purnama—jika tidak berlebihan. Dan paras secantik bunga camelia itu masih tersembunyi di balik sehelai kain yang menutupi sebagian wajahnya. Aku tak pernah rasakan sensasi alami semacam ini. Ketika aku ada di dekatnya hatiku meraung ingin miliki dia seutuhnya. Tapi bukankah terlalu kurang ajar jika aku menikmati keindahan yang bukan milik aku? Dan sejak itu aku ingin milikinya! Walaupun merasa memiliki itu sendiri adalah hal yang kurang ajar. Menurutku, semoga aku salah.

Mulanya aku tanyakan namanya. Iya, seperti perkenalan pada umumnya. Dimulai dari berjabat tangan. Oh tidak, aku tak pernah sempat pegang tangannya meski sekadar bersalaman. Dari atas bak mobil aku menanyakan namanya. Aku hanya seorang kernet. Hanya kernet! dan dari atas bak mobil aku menanyakan namanya. Kulihat tanganku terlalu kotor untuk menggenggam tangannya yang terlihat halus selembut kain beludru. Tidak pantas menurutku. Beruntungnya inderaku begitu tajam ketika menangkap satu kata lembut dari bibirnya yang langsung menusuk telingaku lantas bersemayam dalam jiwaku. 

Hanya sepotong nama yang dia katakan sambil tetap berlalu. “Irna.” Terdengar indah juga berkesan—bagiku. Terlebih aku hampir tidak percaya jika dia mau menjawab pertanyaanku.***


Penulis: Andi Pranata 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemiskinan Bukan Takdir, Melainkan Akibat Aturan

CERPEN PART1 Kisah Negeri Abra

Kesibukan Aisar Khaledd saat Pisah dari Vilmei: Netizen Gagal Move On!