Fakta Dugaan Kekerasan Oknum Pengurus NU Saat Muktamar!
![]() |
| Ilustrasi Sebuah Ladang (Pexels/Lan Nguyen Tran) |
Memang benar, aku bukanlah orang yang kuat. Atau katakanlah aku ini adalah orang yang lemah. Brengsek! Tak miliki tujuan.
Baca juga: CERPEN PART3 Kisah Negeri Abra
Dan yang paling menyedihkan, aku tak miliki hasrat apapun di dunia ini. Aku selalu berjalan lusuh dengan mata yang mengantuk.
Aku yakin bahkan orang paling putus asa di dunia ini pun akan sungkan ketika lihat aku. Tapi setelah dua puluh empat kali tujuh jam terakhir, duniaku berubah. Tepatnya setelah pertama kali aku lihat dia.
Di persimpangan jalan di antara pengapnya tumpukan bahan bangunan, aku lihat dia berdiri di atas tangga kecil. Aku masih bisa rasakan sensasinya.
Baca juga: CERPEN PART2 Kisah Negeri Abra
Ketika pertama kali aku lihat matanya yang teduh bagai purnama—jika tidak berlebihan. Dan paras secantik bunga camelia itu masih tersembunyi di balik sehelai kain yang menutupi sebagian wajahnya. Aku tak pernah rasakan sensasi alami semacam ini.
Ketika aku ada di dekatnya hatiku meraung ingin miliki dia seutuhnya. Tapi bukankah terlalu kurang ajar jika aku menikmati keindahan yang bukan milik aku?
Dan sejak itu aku ingin milikinya! Walaupun merasa memiliki itu sendiri adalah hal yang kurang ajar.
Menurutku, semoga aku salah.
Mulanya aku tanyakan namanya. Iya, seperti perkenalan pada umumnya.
Dimulai dari berjabat tangan. Oh tidak, aku tak pernah sempat pegang tangannya meski sekadar bersalaman. Dari atas bak mobil aku menanyakan namanya.
Baca juga: CERPEN PART1 Kisah Negeri Abra
Aku hanya seorang kernet. Hanya kernet! dan dari atas bak mobil aku menanyakan namanya. Kulihat tanganku terlalu kotor untuk menggenggam tangannya yang terlihat halus selembut kain beludru.
Tidak pantas menurutku. Beruntungnya inderaku begitu tajam ketika menangkap satu kata lembut dari bibirnya yang langsung menusuk telingaku lantas bersemayam dalam jiwaku.
Hanya sepotong nama yang dia katakan sambil tetap berlalu. “Irna.” Terdengar indah juga berkesan—bagiku. Terlebih aku hampir tidak percaya jika dia mau menjawab pertanyaanku.
Berikut cerpen part 1 ladang-ladang sunyi, semoga terhibur.***
Komentar
Posting Komentar