Fakta Dugaan Kekerasan Oknum Pengurus NU Saat Muktamar!
![]() |
| Ilustrasi seorang wanita di negeri impian (pexels/Felix Young) |
Berhari-hari aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan fokus pada tugas-tugas yang ditanggungjawabkan kepadaku.
Toh aku datang ke kampung ini sebagai mahasiswa yang memiliki tugas tertentu, untuk apa aku repot-repot memikirkan kakek, puisi, dan rumah di tengah hutan itu.
Tapi usaha itu sia-sia dan sialnya Tari masih juga belum terlihat.
Baca juga: CERPEN PART2 Ladang-ladang Sunyi
Aku sudah mencarinya tapi tetap tak tahu dia di mana. Rumahnya kosong dan aku tidak memiliki akses apapun untuk menghubunginya. Sudah delapan hari semenjak dia membiarkanku terjebak dalam berbagai dugaan, dia tetap tak terlihat.
Dan tak lama lagi tugasku selesai dan aku akan kembali ke kota asalku.
Ketika harapanku telah hilang dan tubuhku telah ikhlas dimakan rasa penasaran, dua hari lagi aku pulang—Tari datang.
Tiba-tiba saja dia masuk ke kamarku dan melentangkan tubuhnya di atas kasur. Dia datang dan melentangkan tubuhnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Baca juga: CERPEN PART3 Kisah Negeri Abra
Toh memang dia tidak bersalah, hanya aku saja yang terlalu termakan kata-katanya.
“Dari mana saja kau?” tanyaku.
Tapi belum dia menjawab perhatianya telah tertuju pada buku tipis usang yang kuletakan di sebelah bantal di dekatnya.
“Buku ini,” katanya sembari mendekatkan jari telunjuknya,
“Dari mana kau dapat buku ini?” lanjutnya lagi.
“Dari tempat kemarin.”ujarku
“Kau mengambilnya?” tanyanya dengan mata terbelalak
“Lebih tepatnya meminjam.” sambungku
“Tanpa memberitahuku?” Tari memicingkan mata, aku mengganguk.
“Kurang ajar!” Dia malah memarahiku, aku ikhlas dimarahinya.
Tiba-tiba saja aku teringat nasehat orang tuaku: marah tandanya sayang.
Baca juga: CERPEN PART1 Kisah Negeri Abra
“Kau tahu tidak ada yang boleh mengambil atau meminjam barang-barang yang ada di rumah itu. aku tidak tahu pasti apa yang akan terjadi nanti, tapi warga desa sangat melarang hal itu.”
Cara bicaranya yang serius juga raut wajahnya yang tampak cemas, membuatku sejenak mematung.
“Jadi gimana?” Aku kebingungan
“Kembalikan sekarang!” bentaknya
Aku buru-buru keluar rumah untuk mengembalikan buku ini. kini rasa penasaranku telah terkubur—terkubur oleh rasa takut dalam kebingungan.
Aku pernah diperingatkan kawanku jika telah sampai di daerah jangan bertingkah semaunya, sebab di daerah-daerah tertentu masih menyimpan cerita-cerita mistis yang belum bisa dijelaskan oleh logika.
Sebab itulah aku benar-benar takut.
Baca juga: PUISI Bisik-bisik Mawar
Kini aku masuk ke hutan dengan langkah cepat sementara Tari mengikuti dua langkah di belakang. Tak lama di perjalanan Tari menarik tanganku membuat langkahku terhenti.
“Kau takut?” tanya Tari yang kini kami saling berhadapan.
“Ayo cepat!” aku kembali melanjutkan langkah.
“aku cuma bercanda, tidak perlulah kau sampai takut begitu.” Dia terkekeh membuatku berhenti. Aku dipermainkan! Tari meminta maaf dengan wajah yang sangat menggemaskan.
Ini di tengah hutan dan tidak ada orang lain lagi selain kami. Aku segera mengajaknya kembali ke desa. Tapi lagi-lagi Tari menarik tanganku dan kini kami saling berhadapan sangat dekat! Sangat dekat! Yang membuat jantungku berdebar dan tubuhku gemetar.
Baca juga: PUISI Lelaki di Balik Tanggal Merahnya
Tidak pernah aku rasakan sensasi semacam ini yang seolah darahku naik sampai kepala. Aku bisa merasakan nafasnya yang menyembur ke wajahku.
Wangi dan menggairahkan! Tak lagi terdengar suara hewan-hewan di sekitar, tak lagi ada hal lain yang aku pikirkan.
Semua tertuju padanya bahkan hidupku, seluruh hidupku sudah terfokus padanya. Dia mulai mendekatkan wajahnya secara berlahan, sangat dekat!
Tapi tidak! Tidak akan aku kurang ajar pada dia, tidak akan kuhinakan dia dengan mendekapnya hanya karena nafsu! Aku tidak mencintai dia.
Baca juga: PUISI Seumpama Bergerilya
Segera kujauhkan langkahku darinya dan dia menatapku seolah ada magnet yang menarikku untuk mendekat padanya saat itu juga. Tapi tidak! Sekali tidak!
“Maaf,” kataku,
“Maafkan aku.” Dia tidak menjawab tapi wajahnya tersipu. Sedikit lambat saja mungkin akan ada petaka.
Demikian cerpen part2 kisah Negeri Abra, semoga kamu semakin semangat membaca kelanjutannya!
Demikian cerpen part2 kisah Negeri Abra.***
Penulis: Andi Pranata
Komentar
Posting Komentar