CERPEN PART2 Ladang-ladang Sunyi
![]() |
| Ilustrasi Sebuah Ladang (Pexels/Lan Nguyen Tran) |
iLintas.com-Betapa seorang laki-laki malang, hebatnya perempuan itu! Dan apa boleh aku sebut dia penyihir. Sebab karena dia, aku yang dulu selalu melihat dunia dari warna yang sama, hitam dan membosankan, kini kembali mampu menikmati indahnya langit sore dan hangatnya mentari pagi. Dulu, aku yang tak pernah tahu di mana letak indahnya suara kicau burung atau gejibak air hujan atau meriahnya suara sorak-sorai anak bermain di pelataran, kini mampu tersenyum karenanya. Aku yang dulu, tidak pernah mampu membaca isyarat semesta tentang hujan, lembayung, dan bahasa kesunyian, kini aku mampu memaknai semuanya. Betapa hebat perempuan itu, aku yang dulu selalu merasa kecil dan kosong, kini kembali merasa jika aku adalah seorang laki-laki yang seutuh-utuhnya.
Hari-hari berlalu dan setelah itu seperti kisah pada umumnya, kudapati fakta jika dia sudah ada yang miliki. Sebagai seorang laki-laki, di sini adrenalinku diuji. Kuceritakan segalanya pada kawanku. Satu-satunya kawanku yang seprofesi. Dia terbahak-bahak, lalu tersenyum dan menggeleng membuat aku tidak mengerti.
“Kenapa?” tanyaku.
“Sebelum undangan disebar.” jawabnya mantap dan aku menggeleng.
Mobil berlalu dengan cepat.
“Tapi aku tak ingin pertaruhkan kehormatanku sebagai laki-laki dengan merampas sesuatu milik orang lain.”ucapku pelan
“Frans, kau tahu, untuk urusan cinta benar dan salah sudah tidak bisa lagi dibedakan. Lagi pula dia belum terikat dengan janji suci pernikahan.” tambah kawanku.
Ringan betul dia katakan itu pekikku dalam hati, padahal kenyataannya pikiranku menjelajah jauh ke depan dengan berbagai dugaan. Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana yang ternyata sukses membuat aku tak mampu melakukan apa-apa. Tiap kali aku ada di dekatnya aku hanya diam, mulutku seolah terkunci dan tubuhku begitu kaku. Jujur saja, sebenarnya aku mampu jika harus memindahkan beban berton-ton dari bak mobil, tapi entah kenapa di hadapan paras lembut yang bahkan bunga pun malu ketika berhadapan dengannya karena kalah cantik, aku bungkam! Jika saja kau bertanya, kenapa aku selalu diam ketika di dekatmu? Alam bawah sadarku pasti kan mengolah bahasa.
“Diam adalah cara terbaik menikmati keindahan.” keluhku
Aku mulai diteriaki pecundang oleh kawanku. Aku hanya berani memulai tapi tak pernah mampu menyelesaikan, katanya. Bahkan diriku sendiri pun mulai meragukan. Kenapa aku begitu lemah? Aku masih tidak mampu mendobrak batas-batas. Aku terlalu pasrah pada kenyataan. Orang-orang selalu bilang jika cinta adalah anugerah, tapi untuk ini aku tersiksa karenanya.
"Kamu tidak mencintainya, sebab aku tak mau berjuang hingga akhir," ucap kawanku
Padahal aku tak melanjutkannya hingga akhir, justru karena aku terlalu mencintainya. Sebab setahuku yang ‘terlalu’ akan selalu berdampak tidak baik.
"Aku mencintai ibuku, kau tahu? Dia satu-satunya wanita yang aku tangisi, aku tak pernah rela ketika dia pergi, sebab aku mencintainya secara berlebih!"bentakku
Jelas, dampaknya tidak baik. Sejak di mana hari kelam itu terjadi, dunia kembali berwarna hitam. Aku berhenti berpikir tentang bagaimana indahnya hari baik di masa depan. Aku menjadi seseorang yang tidak banyak bicara, kemana pun aku pergi, seolah ada awan hitam yang memayungiku. Aku selalu kedinginan dan merasa sendiri. Aku menjadi begitu dingin terhadap kehidupan dan kaku. Sesuatu yang sangat mengerikan jika dipikirkan, apalagi dirasakan. Pada kanvas! Pada kertas! Aku sering meluapkan emosiku. Begitu parahnya seorang anak remaja yang untuk pertamakalinya merasakan kehilangan. Dan aku tak ingin sesuatu itu terulang lagi saat ini.
Aku benar-benar mencintainya. Namun, sayangnya setelah aku tahu perbedaan di antara kami—selain karena aku pengecut—aku tak ingin mengambil resiko. Karena itu aku tak ingin mengusiknya, sebelum semua menjadi serba terlanjur. Tapi aku mencintainya! Aku tak ingin melihat dia menangis, sebab ketika aku melihat itu, aku pasti akan merasakan sakitnya. Biarlah aku memandanginya dari kejauhan. Walaupun itu kurang ajar. Biarlah aku tersenyum ketika mendapati dia bahagia. Daripada memaksakan cinta yang sulit bersatu. Lebih baik aku menyiksa diri sendiri daripada menyiksa dia pada akhirnya.
Perbedaan keyakinan memang sangat menyakitkan! Tapi lebih menyakitkan lagi ketika aku tahu jika dia milik orang lain, karena ‘aku mencintainya’ yang membuat aku dan dia sulit bersatu. Sekali lagi aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal, dan untuk kawanku, barangkali dia akan mengingatku sebagai seorang laki-laki setengah perempuan karena tak mampu menerobos tabu.
dan Irna, kau sudah ada yang mendampingi. Karena itu kau tak akan pernah merasakan sepi, aku tak akan mengusikmu. Biarlah aku, di sini, mengeja namamu di dalam lembar puisi. Hingga pada perjalanan waktu semua tetap abadi, terpatri di dalam keagungan manusia yang harus rela mengikhlaskan tanpa pernah sempat dipersatukan. (TAMAT)***
Penulis: Andi Pranata

Komentar
Posting Komentar