Kecelakaan di Alam Sutera Akibat Pelajar Bawa Sajam

Gambar
Ilustrasi Kecelakaan (Pexels/Valentin Sarte) iLintas - Sekelompok pelajar yang tidak diketahui identitasnya menghebohkan pengguna jalan karena membawa senjata tajam dan stik golf yang mengakibatkan kepanikan. Sepeda motor akhirnya tertabrak trotoar yang menewaskan pengendara setelah mengalami cedera kepala hebat di Jalur Sutera Utama, Alam Sutera, Serpong Utara. Kejadian kecelakaan terjadi di sore hari pada Jum'at 9 Oktober 2026, saat korban dan teman-temannya ingin berangkat untuk bermain futsal dan berpapasan dengan kelompok pelaku. Korban yang merupakan pelajar SMK dengan inisial A (14 tahun) dan W (15 tahun) berasal dari Pinang, Kota Tangerang, mereka sebelumnya menjadi suporter pertandingan futsal.  Iptu Wahyuni selaku Kasie Humas Polres Tangsel mengatakan bahwa korban menggunakan motor Honda Scoopy dan akhirnya terbentur tiang listrik di pinggir jalan. "Kelompok pelajar lain yang diketahui berasal dari SMK Yadika 4 Cileduk datang dari arah Graha Raya, kelompok tersebut d...

CERPEN PART3 Kisah Negeri Abra

Ilustrasi seorang kakek misterius (pexels/Beta Xalfa)

iLintas.com
-Inilah kelanjutan cerpen kisah Negeri Abra part 3 yang mungkin kamu tunggu.

Bagaimana? Apakah kamu penasaran dengan cerpen part 3 kisah negeri Abra? 

Simak cerpen part 3 kisah Negeri Abra. Kami duduk di beranda rumah. Aku mencoba menata kembali pikiranku dengan menyesap segelas kopi. 

Sementara Tari duduk di sebelahku dengan pikirannya sendiri. Kebekuan hadir di antara kami. Sangat canggung, tidak seperti sebelumnya. 


“Kau lelaki yang baik Hans.” Kata-kata itu mengejutkanku, menamparku, membuatku tak mampu berkata-kata. Seolah ada kekecewaan sekaligus hinaan yang terselip di antara bunyinya. 

“Di zaman seperti sekarang ini, masih ada orang sepertimu." ucapnya dengan wajah tertunduk

"Maafkan tindakanku tadi.” sambungnya.

 Aku masih tidak bisa menanggapinya. Bahkan aku tidak memandangnya.

Aku hanya membolak-balik buku tipis usang yang kugenggam tanpa membacanya. Aku salah tingkah! Benar-benar salah tingkah! Bagaimana dengan rasa penasaranku. 

Tidak tepat membahas hal itu untuk saat ini. Aku berharap dia pulang dan menenangkan diri begitupun aku.

Hari ini adalah hari terakhirku di desa ini. Aku menemui Tari hendak memuaskan rasa penasaranku tentang kakek, rumah di tengah hutan, juga tentang puisi. 

Syukurlah hari ini Tari sedang duduk di beranda rumahnya. Seperti biasa, aku hanya melihat dia seorang diri di rumah panggung itu. Tidak ada orang lain lagi dan aku tak pernah menanyakan tentang keluarganya yang lain. 

Belum sampai, dari kejauhan sudah nampak senyum yang menyambutku. Sepertinya persaaan kami berdua sudah lebih baik dari hari kemarin. Gadis itu kembali berkicau menceritakan segalanya. 

Sampai-sampai dia terlihat puas dan kehabisan topik cerita ketika menceritakan desa ini.

 Tapi tak juga dia singgung tentang sang kakek. Akhirnya aku pun bertanya.

Dia berdiri dari kursinya dan mulai mengajakku ke suatu tempat yang lagi-lagi tidak dia beritahu kemana. Setelah beberapa menit kami berjalan sampailah kami di sebuah pemakaman. 

“Lihatlah sembilan puluh tahun!” Tari menunjuk batu nisan bertuliskan Sutoyo. 

“Lalu?” aku melongo

Saat pertama kali aku bertemu kakek, usianya sudah di atas delapan puluh. Menurut ceritanya dia tinggal di hutan sejak periode enam puluhan. 

Pada saat itu kakek lari ke hutan lantaran diburu oleh warga karena dituduh anggota partai merah. Dan sejak saat itu kakek tidak pernah keluar dari hutan.

 Apa kau tahu apa yang terjadi pada Negeri Abra ini ketika periode sebelum tahun 1965 hingga sampai priode awal Orde New berdiri?”

 Belum sempat aku menjawab Tari sudah kembali bercerita.

 “Ohh maaf, aku lupa kalau kau mahasiswa kampus Hijau. Tapi menurut cerita kakek, saat itu dia dan tiga temannya sedang berada di suatu desa. 

Selepas maghrib, tiba-tiba saja datang sekerumunan warga dibantu oleh aparat menggeruduk rumahnya." 


Beruntung kakek sedang berada di belakang rumah lantas dia langsung melompat ke dalam semak-semak. 

Kakek tidak langsung menjauh saat itu, dia melihat dua temannya ditangkap dan disiksa oleh warga sebelum akhirnya dilempar ke atas bak mobil. 

Suasana sangat mencekam saat itu. segala sesuatu yang menyangkut Partai Merah juga ormas-ormas lainnya yang berbau kiri akan dihancurkan. 

Saat itu kakek menyaksikan keganasan dan kebrutalan yang dilakukan orang-orang di Negri Abra kepada bangsanya sendiri.

 “Artinya Kakek itu orang Merah?” tanyaku tak percaya

Tari mengangguk. “Dan buku-buku itu buku kiri?” Sekali lagi Tari mgangguk. 

“Kau tahu kan, di suatu waktu pernah ada pemusnahan buku kiri, nah buku-buku itu adalah buku yang berhasil diselamatkan.” lanjut Tari.

 “Apa kau tahu Merah itu musuh negara, kenapa kau malah merawatnya?” Tanyaku tak percaya. 

Tari terlihat kesal dengan ucapanku. 

“Tidak pantas kau berkata seperti itu di depan makam kakek. Lagi pula aku pernah membaca sajak Bung Karno presiden pertama dari negara Indonesia!" bentaknya.

"Ketika aku melihat wajah lelah sang kakek, aku tak lagi melihat seorang kakek-kakek tapi aku melihat Negri Abra.”  

Wanita ini secepat abu menghilang dari pandanganku. (TAMAT)

Demikian cerpen part 3 kisah Negeri Abra, semoga menghibur.***

Penulis: Andi Pranata

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Supir Taksi Dibegal di Pamulang!

Mahasiswa Tewas Bikin Konten di Stasiun Sudimara

Kecelakaan di Alam Sutera Akibat Pelajar Bawa Sajam