[OPINI] Jenderal Banyak Uang Pelaku Kejahatan Dapat Beasiswa Kuliah di Penjara

(Ilustrasi tangan di balik jeruji penjara/ pexels: Ron Lach)

iLintas. com
-Saya paham bahwa ada UU No. 22 Tahun 2022 tentang hak narapidana yang salah satunya menempuh pendidikan. Tapi, apakah Indonesia selalu meluncurkan peraturan sesuai dengan kepentingan yang menduduki di atas?  

Misalnya, saat wakil presiden yang usia muda bertentangan dengan peraturan maka langsung diterbitkan peraturan yang baru untuk membuat sahnya sosok calon wakil. Rasanya konyol tapi begitulah kenyataannya. Saya juga bertanya, apa fungsi SKCK? 

Saya paham kalau narapidana juga butuh pembinaan, Kasubdit Ditjen PAS Rika Aprianti juga mengatakan bahwa tidak hanya Ferdy Sambo yang kuliah dan lapas sudah bekerja sama dengan pihak kampus sebagai bentuk program binaan. 

Saya berpikir mungkin cuman suudzon saya terkait pemerintahan dan huru hara yang terjadi, pikiran saya kemudian beralih. Semoga Ferdy Sambo terketuk hatinya, dan menjadi pribadi yang lebih baik setelah mendapatkan gelarnya, karakternya juga mungkin bisa berubah menjadi sosok yang bijaksana. 

Saya tidak mau terlalu anti pemerintah dan menentang, biar bagaimanapun saya masih warga Indonesia yang harus mentaati aturan dan mengakui suara terbanyak di masyarakat.

Instagram pelaku juga masih aktif diambil alih oleh admin, postingannya berupa dukungan terhadap keluarga, istri, dan anaknya. Saya membayangkan bahwa kehidupan mereka seperti normal, anak-anaknya sukses, pendukungnya masih setia dan seperti tidak terjadi apa-apa. 

Saya sih tidak mengikuti sepenuhnya berita saat masih hangat dan happening terkait pembunuhan Brigadir Josua Hutabarat, semoga transparan sidangnya ya. 

Motif pembunuhannya sampai saat ini belum saya ketahui secara penuh, karena banyak berita yang seliweran. Saya sempat berbincang dengan kawan saya, berdiskusi terkait isu dan berita ini.

Sore itu, saya dan kawan-kawan berniat ngopi di dekat kampus, saya fresh graduate yang masih terikat dengan kampus karena masih merasa jadi mahasiswa. Di halaman kampus kami berkumpul, motor berjejer, terlihat motor Harley Davidson berwarna merah dengan bodi yang mengkilat menarik pandangan saya. 

Ada juga motor vespa yang sudah dimodif sehingga bentuknya sangat unik, kami membahas banyak hal salah satunya kasus Ferdy Sambo. Kawan saya menilai, “Isu itu mah cuman pengalihan doang kali ya,” ucap salah satu laki-laki berbadan tinggi kurus. 

“Menurut gue, ada kasus besar yang ditutupin, bukan sepele kaya yang diberitain perselingkuhan misalnya,” sahut yang lainnya.

Dipikirkan kembali matang-matang, betul juga sih karena tidak mungkin pembunuhan yang didalangi seorang jendral terjadi begitu saja tanpa alasan yang jelas. 

Kami tidak terlalu membahas secara detail, sekadar obrolan yang lewat begitu saja tanpa pamit. Perkumpulan kami juga tidak lama, sore hari langsung cabut lagi, kami malah banyak membahas dengan cowo yang sedang mendekati saya, 

“Serius, cowo yang deket sama lu garuk-garuk udel?” ucap laki-laki berkacamata dan berhidung mancung. 

“Ya makanya gue tinggalin, dia juga gue ajak nonton horor malah ditinggal tidur guenya,” sahut saya jengkel.

Saya jadi ingat film ghost in cell yang diusung Joko Anwar, yang ditonton hari kamis 28 Mei lalu. Pertama kalinya saya nonton sendirian, jantung mau copot rasanya. 

Saya sengaja memilih kursi paling pojok. Kesimpulan saya setelah menonton film itu adalah, apakah sel penjara untuk koruptor dan tokoh yang berduit itu benar-benar dibedakan? Seperti di film, atau film itu hanya sekadar ilustrasi dan fiktif. Film tersebut juga membuka mata saya bahwa, sepertinya ada beberapa oknum pejabat yang berpikir bahwa masuk jeruji besi, mereka merasa lebih enak seperti liburan. Tapi, tidak semuanya begitu loh ya..***

Penulis: Aviaska Azizah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemiskinan Bukan Takdir, Melainkan Akibat Aturan

4 Kebiasaan Penulis Keren yang Jarang Dibagikan ke Pemula, Simak Penjelasannya

Kesibukan Aisar Khaledd saat Pisah dari Vilmei: Netizen Gagal Move On!